Minggu, 28 Oktober 2012

KAJIAN CERITA CANGKRANGGA DAN DURBUDHI DALAM TANTRI KAMANDAKA DARI PENDIDIKAN AGAMA HINDU


KAJIAN CERITA CANGKRANGGA DAN DURBUDHI DALAM TANTRI KAMANDAKA DARI PENDIDIKAN AGAMA HINDU

Ngurah Aditya
Librarian STAH DNJ, and Freelance Writers
Diresume dari skripsi Purnam, dgn judul sama

A.    Abstrak
Pendidikan adalah suatu proses membimbing, mengarahkan, menuntun seseorang untuk meningkatkan dirinya guna menuju kepada tingkat kedewasaan baik itu dewasa secara fisik atau dewasa mental spiritual. Dalam usaha mengkaji ilmu pendidikan tersebut banyak dilakukan melalui berbagai wujud dalam usaha dilaksanakan, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pada akhirnya seseorang dapat memiliki pengetahuan yang membuat dirinya menjadi orang yang memiliki budi pekerti yang luhur dan bijaksana untuk menuju pada pencapaian kebahagiaan rohani (Moksah) dan mampu mencapai tingkat kesejahteraan jasmani (Jagadhita).
Untuk mencapai moksartham dan jagadhita (kebahagiaan rohani dan kesejahteraan jasmani), serta memiliki budi pekerti yang luhur, bijaksana maka cara atau jalan satu-satunya yang perlu ditempuh adalah dengan selalu meningkatkan usaha-usaha untuk mempelajari Weda (Ilmu Pengetahuan).
Untuk mempelajari Weda yang sangat rahasian itu telah diturunkan pula cerita rakyat, tantri kamandaka, serat pararaton yang merupakan penjabaran, penjelasan dari isi Weda, sehingga umat lebih mudah  untuk mempelajari dan memahaminya. Tantri kamandaka adalah merupakan bagian dari nibanda. Tantri kamandaka adalah kumpulan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi yang dapat dipergunakan sebagai cermin dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan cerita Cangkrangga Wmang Durbudhi dianggap memiliki nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi yang terkandung didalamnya.

Kata kunci: Tantri Kamandaka, Nilai Pendidikan, Cakrangga Wmang Durbudhi


B.     Latar Belakang
Manusia sebagai mahluk individu dan mahluk social dalam hidup bermasyarakat dalam memenuhi segala kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani, dalam hidup bersosialisai, bermasyarakat manusia memerlukan pedoman, norma supaya tidak terjadi benturan dalam memenuhi segala kebutuhan itu.
Demikian halnya dengan umat Hindu sebagai bagian dari kehidupan social umat manusia sangat memerlukan adanya petunjuk sebagai pedoman hidup. Agama Hindu mempunyai tujuan untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani.
Untuk mencapai tujuan Agama Hindu umat Hindu harus mengetahui dan belajar Veda (ilmu pengetahuan), dengan ilmu pengetahuan yang sempurna orang akan memiliki kebijaksanaan untuk menjadi prang yang bijaksana melalui pendidikan formal dan informal. Ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan berjalan secara continue, yang kerap di kenal sebagai pendidikan seumur hidup (Long Life Education).
Agama Hindu adalah agama yang bersifat universal yang memberikan kebebasan kepada penganutnya untuk mempelajari, menghayati sari-sari ajaran agamanya serta mengamalkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan sifatnya yang universal itu,Veda sebagai kitab sucinya bukan untuk satu golongan saja tetapi adalah untuk seluruh umat manusia baik yang beragama Hindu maupun yang tidak memeluk agama Hindu. Namun demikian untuk mempelajari agama Hindu tidaklah mudah, selain kesuciannya isi ajaran Veda sangatlah luas dan sifatnya yang sangat rahasia.
Karena sifatnya yang Rahasia dan sukar seseorang harus melakukan penyucian lahir dan bathin, serta di pelajari secara berjenjang melalui berbagai bentuk cerita-cerita, termasuk di dalamnya Panca Tantra yang didalamnya banyak mengandung ajaran kebajikan, moral, etika dan budi pekerti. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam Panca Tantra sebenarnya mengacu kepada ajaran-ajaran yang teradapat dalam kitab suci Veda. Namun dalam penyampaiannya kitab Panca Tantra tidak menyebutkan bagian Veda mana yang “ditafsirkan” dalam Kitab Panca Tantra.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis mencoba mengkaji nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita Tantri Kamandaka terutama pada bagian Tjakarangga dan Durbudhi yang isinya menceritakan tentang persahabatan antara angsa dan kura-kura yang mereka bersahabat karena adanya air. Karena danau tempat Tjakarangga dan Durbudhi tinggal di landa kekeringan akhirnya mereka memutuskan untuk pindah. Karena kura-kura tidak dapat terbang maka angsa memberikan sepotong kayu di mulut kura-kura. Dalam perjalannya mereka melewati sepasang anjing yang mencemooh kura-kura. Kura-kura yang tak dapat menahan kemarahaannya, sehingga ia terjatuh kemudian tewaslah mereka.
Cerita Tantri Kamandaka merupakan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun yang didalamnya mengandung ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab suci Veda. Dalam cerita “matinya sang kura-kura” disebabkan oleh kesombongan dan kemarahan. Cerita ini sangat baik digunakan sebagai media untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu kepada umatnya serta menghayati serta mengamalkan nilai-nilai yang dipakai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Mengingat makin terbukanya pergaulan bangsa dalam Era Globalisasi yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuand dan teknologi hal ini sudah pasti memberikan pengaruh pada kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang belakangan ini tampak adanya sikap yang kurang perhatian di kalangan generasi muda terhadap karya sastra tradisional, kecenderungan generasi muda saat ini untuk meniru budaya dari luar, membuat karya sastra local menjadi di tinggalkan.


C.    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebtu di atas tampak jelas bahwa, bagian dari cerita Tantri Kamandaka Terdapat suatu nilai pendidikan. Untuk menyiasati kontek kajian tersebut diperlukan rumusan masalah dalam menyatakan kaidah yang ada.
Karena rumusan masalah sangat penting dalam proses penulisan, tanpa ada masalah tidak mungkin adanya penggalian nilai-nilai untuk menentukan hasil suatu kajian.
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis dalam merumuskan masalah memilih sebagai berikut:
1.      Apakah nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam cerita matinya sang kura-kura?
2.      Bagaimana hubungan cerita matinya sang kura-kura bila dikaitkan dengna pendidikan moral etika Hindu?


D.    Kedudukan Cerita Cangkrangga Wmang Durbudhi Dalam Kitab Suci Weda
Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi kedua cetakan ke IV yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1995. Pada halaman 245 “kedudukan diartikan antara lain; (1) tempat kediaman, (2) letak atau tempat suatu benda dan status (keadaan atau tingkatan orang, badan atau Negara dsb)”. Berkenaan dengan itu maka yang dimaksud dengan keududkan tantric kamandaka dalam kitab suci Weda adalah letak atau tempat keberadaan dari tantri Kamandaka, serta keterkaitannya dengan kitab suci Weda.
Cerita tantric ini bila di telusuri lebih jauh, tidak jelas siapa yang menyusunnya dan siapakah yang membawanya ke Indonesia. Para pujangga pada jaman dahulu enggan mencantumkan jati dirinya, mereka bercerita secara anonym. Padahal cerita-cerita yang mereka sampaikan mengandung nilai yang tinggi dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Tantric Kamandaka merupakan bagian dari isi kitab suci Weda. Definisi konsep Tantri Kamandaka merupakan bagian dari isi kitab suci Weda. Definisi konsep Tantri Kamandaka mengacu pada pengetahuan mengendai kitab suci dan pengertian dari kitab suci Weda sehingga konsep Tantri Kamandaka adalah memuat penafsiran ajaran Weda yang di laksanakan dalam kehidupan keagamaan Hindu.


E.     Sinopsis Cangkrangga Wmang Durubudhi
Cangkrangga wmang durbudhi merupakan salah satu episode yang terdapat dalam tantric kamandaka, yang di terjemahkan oleh (Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gde Murda, BA, Ida Bagus Marka, Ida Bagus Sunu, I Made Lodamanta, diterbitkan Dinas pendidikan dan kebudayaan propinsi dati I Bali, 1986) adapun cerita tersebut berikut:
Hana ta ya pas munggwing talaga kumudawati, ramya ikang talaga akweh tunjungnya aneka warna hana cweta, rakta mwang nila pangkaja. Hanaa ta hangca lakistri, masabha rikang talaga kumudawati panangka hiking wwai sangkaring talaga masasara hangca lanang si cangkanggi ngaran: i. hangca wadon yeka sama maungguwing talaga kumudawati malawas pwa masamitra lawan sang pas mangaran di durbudhi ikang lanang si kacapa ikang wadon.
Kunang meh la hru masa, sang cayasat wwainikang talaga kumudawati, mawit ikang hangca laki biring mitranya pas ikang mangaran si durbudhi mwang maminengka saka ngke apan sang cayasat tika mangke wwainikang talaga kamu wwai, nimittani nghulun mahyun layato, umungsi talaga ring himawan parwa ta ngkana, mangaran ring manasasara, maha pawitra ika, wwainya mahening adalem lan masat yan lahatamasuri kana paran ing hulan mitra.
Mangkana ing nikang hanga sumaheir ikang paslingnya; asuh mitra lukon marasihining hulun iri kita mahyun matinggala kita mangke ring hulun mariha hurpita prihawak? Apan pada gatining hulan lawan kita tan wenang madoha lawan wwai! Saparanta mami tumuta milwa ri sukuduhkanta makaphalaning wwang samitra lawan kita.

            Yang di terjemahkan sebagai berikut :

     Tjangkarangga dan Durbudhi adalah kura-kura dalam telaga kumudawati. Permai telaga itu banyak teratainya, beraneka warna ada yang merah, putih ada yang kebiru-biruan.
Ada angsa jantan-betina berkeliaran mencari makan di telaga kumudawati yang asal airnya dari telaga manasara adapun nama angsa itu si tjangkarangga, yang jantan bernama tjangkranggi, yang betina mereka sama-sama ada ditelaga lamalah sudah bersahabat dengan kura-kura yang bernama durbudhi dan katjapa maka katanya: “sahabat kami akan minta diri akan pergi berjalan. Berhasaratlah kami pergi dari sini karena makin kering air ini nanti air telaga kumudawati. Lagi pula menghadapi musim kemarau kami (kalau) akan jauh dari air itulah mula sebabnya kami bermaksud akan pergi mencari telaga ke gunung hemawan itu bernama manasasara. Sangat hening telaga itu, airnya jernih dan dalam, tidak kering pada masa kemarau. Kesanalah tujuan pergi kami sahabat, demikian perkataan angsa itu, menyahutlah kura-kura itu katanya; aduhai sahabat, sangat besar cinta kami, akan menyelenggarakan hidupmu sendiri, bukankah sama hal kami dengan hal kamu (sama-sama) tak dapat jauh dari air, kemana kamu pergi kami akan turut, akan mengikuti kepada senang dan susah kamu, itulah buah persahabatan kami dengan kamu.

Sumahur ikang hangca; aum sang pas, hana kira-kira ning hulun nihan iking kayu sahutan denta ri tangahnya, kami sumahura denta ri tangahnya, kami sumahura ri tantungnya, sana-sini lawan swamining hulun kakawaca mene dening hulun humi berekene rikita, hawya tan mategah denta manahut, nguni weh haywa ngucap-ngucap salwirning kurungkalan. Seoeng ning hulun humi beraken ai ri kita, haywa juga binaruhan denta, yan hance, atakwana haywa juga sinaruhan, yekti ulahanta, haywa ta san pmituha pawuwus mami kunang ika yan tan pamitu hu warah mami, tan sidha tekeng dan matemahan pati.
Mangkana lingnikang hangc yata sinahut tengah nikang kayu dening kang pas. Tungung nikang kaya mwang bung bahnya cenucak dening kang hangca sana-sini sajalu stri kanan kiri, teher amor ikang pas winawa dening hangca amare rikang talaga mana sasara kah yunira.
Huwus madah ulihnya mor dating pwa ya ri rihuring tegal wilanggala.
           
            Yang dimaskud adalah sebagai berikut:

Menjawab angsa itu; hai sang kura-kura ada angan-angan kami begini; kayu ini pagutlah oleh mu ditengah-tengah kami akan memagutnya pada ujung sebelah sana dan sebelah sini. Kami nanti membawa terbang kamu jangan tidak teguh kamu akan memangutnya dan lagi jangan mempercakapkan apa saja yang kita atasi. Selama kami membawa terbang kepada kamu jangan pula (sesuatu yang) ditegur-tegur olehmu. Kalau ada yang bertanya-tanya jangan pulan di beri jawaban itulah tugasmu jangan pula tidak mengikuti apa yang kami katakana tadi kalau kamu tidak ingat-ingat kepada ajaran kami itu maka tak terlaksana kamu tidak akan sampai tempat tujuan kita bahkan matilah kamu.
Demikian perkataan angsa dipagutilah tengah-tengah kayu itu oleh kira-kira ujung kayu dan pangkalnya dipagut oleh angsa disebelah sana dan sebelah sini laki bini kanan kiri, lalu terbang kura-kura itu dibawa oleh angsa, maksudnya akan pergi ke telaga manasasara. Telah jauh merka terbang, sampailah mereka diatas ladang wilangala.

Wana mangang tutuknya pwaya ikang pas hwa tekang kaya sinahutnya tiba ikang pas ring ksiri tala leher pinangan taya dening cregala salakistri mati ikang passasomah, ikang hangca kari kerangan apan tan pinihutu sapa wekasnya nguni ring purwaka, lumaris ikang hangca mareng telaga manasasara.

Artinya adalah:

Adalah (desana) anjing jantan-betina, bernaung dibawah pohon mangga maka menegadah anjing betina itu melihat angsa berdua itu terbang membawa kura-kura katanya, hai sang bapa anaku lihatlah yang benar-benar ganjil itu kura-kura dibawa terbang oleh angsa jantan menjawab! Menjawab anjing jantan ganjil sekali katamu! Masa kan kura-kura bisa terbang karena angsa! Bukan kura-kura itu, tai kerbau kering, rumah karu-karu, buah tangan untuk anak-anak angsa kiranya!
Demikian kata anjing jantan itu. Terdengarlah perkataan oleh kura-kura marah ia dalam hatinya berdenyut-denyut mulutnya. Karena dianggap tai kering yang berisi karu-karu, maka terbukalah mulutnya kura-kura itu lepaslah kayu yang dipungutnya gugur kura-kura itu ke muka bumi. Mati kura-kura dengan betinanya angsa itu tinggal meras kecewa karena tidak diikuti segala pesannya dahulu pada mulanya meneruskan perjalannya angsa itu ketelaga manasasara. (Tantri Kamandaka, 78 cetakan I).



F.     Tokoh Dalam Cerita dan Sifat-sifatnya
Cerita Cangkrangga wmang Durbudhi adalah symbol dari penggambaran sifat manusia pada umumnya, yang semua kejadian dalam cerita itu adalah sebuah symbol yang perlu dikaji dipahami makna yang terkandung dibaliknya. Dalam cerita Cangkrangga wmang Durbudhi sangat luas dan banyak variable yang dapat dikaji. Mengingat terbatasnya waktu dan kemampuan penulis maka penulis batasi kajian ini pada “disebuah telaga kumudawati hiduplah dua ekor angsa dan dua ekor kura-kura yang hidup bersahabat dan selalu bersama hingga suatu ketika pada saat musim kemarau air telaga tersebut kering dan keruh, kemudian angsa berunding untuk pindah ke telaga manasasara yang terletak di gunung hemawan yang merupakan telaga yang tidak pernah kering airnya pada musim kemarau dan tidak keruh airnya, hal ini disampaikan kepada kura-kura dan kura-kura ingin ikut serta karena merasa sudah begitu saying hidup bersama selama ini, sehingga angsa memutuskan untuk membawa kura-kura dengan cara membawa terbang dengan mengigit kayu sebagai alat bantunya, si angsa sebelum berangkat menempuh perjalanannya menuju ke gunung hemawan memberrikan pesan kepada kura-kura supaya patuh terhadap pesan tersebut hingga di tengah perjalanan melintaslah angsa tersebut di atas pohon yang dibawah pohon tersebut ada anjing yang melihat perjalanan tresbut dan mengaktakan bahwa yang di bawa terbang angsa adalah tai kerbau bukan kura-kura, hal ini didengar oleh kura-kura maka terpancinglah kemarahan hati sang kura-kura hingga tidak tahan dan ingin membalas penghinaan yang di tunjukan pada dirinya, maka terbukalah mulut kura-kura hingga kura-kura tersebut mati jatuh, angsa merasa kecewa karena semua pesannya tidak di hiraukannya. Berdasarkan ringkasan cerita ini beberapa variable dapat dikaji antara lain:

1.      Sepasang angsa tinggal bersama dengan kura-kura di tepi telaga kumudawati. Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa dalam agama Hindu sejak dunia ini diciptakan oleh prajapati, kehidupan kebersamaan sudah merupakan cara yang paling baik dalam social masyarakat. Angsa dan kura-kura dua tokoh yang berbeda baik wujud, sifat serta perilakunya dapat hidup bersama dalam hal mengarungi kehidupan bersama. Maka sangat aneh apabila manusia tidak dapat hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya, dan harus memakai jalan kekerasan tanpa melihat kepentingan umum atau kepentingan bersama secara menyeluruh. Bagi umat Hindu seharusnya mempunyai ethika moral yang tinggi untuk mengendalikan diri dan mengedepankan kepentingan bersama serta kenyamanan dilingkungannya. Dalam Reg Veda X.191 tentang kerja sama ini disebutkan sebagai berikut :
“ samani va akutik,
Samana hradayanivah,
Samanah astu v mano,
Yatah va susahati”.

Artinya:
Samalah hendaknya tujuanmu, samalah hendaknya hatimu, samalah hendaknya pikiranmu, dengan demikian semoga hidup bahagia bersama-sama. (Gde Pudja, 1984; 156)

Dari sloka ini sangat jelas bahwa kerja sama di dalam masyarakat merupakan suatu jalan mencapai keberhasilan yang membawa pada kebahagiaan bagi semua kelompok masyarakat. Hal ini telah ada sejak zaman weda.

2.      Angsa sebagai simbul kebijaksanaan.
Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih makanan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke perutnya adalah makanan yang baik saja, sedangkan air yang kotor keluar dengan sendirinya. Demikianlah orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah.
3.      Bunga Teratai atau Bunga Padma Sebagai Simbol Alam Semesta.
Bunga teratai atau bunga padma yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala)sebagai stana Tuhan Yang Maha Esa. Alam semesta merupakan tempat dimana mahluk hidup menjalani segala sesuatunya dan memanfaatkan serta menggunakan hasil alam semesta tersebut untuk kemakmuran masyarakat sebesar-besarnya dengan jalan yang benar dan tidak merugikan alam tersebut. Bunga padma juga merupakan lambang dari ilmu pengetahuan yang suci yang merupakan symbol dari hakekat Tuhan itu sendiri. Dalam synopsis cerita diatas bunga teratai trediri dari tiga warna yaitu merah, biru, dan putih, yang ketiganya itu tumbuh di dalam kolam yang masing-masing mempunyai makna simbolis tersendiri. Teratai biru menunjukan arah timur laut dan yberstana disana Dewa Sambu yang bersenjatakan Tri Sula, teratai putih arah mata angin timur yang berstana disana adalah Dewa Iswara bersenjatakan Bajra, teratai merah melambangkan arah mata angin selatan daksina yang berstana disana Dewa Brahma bersenjatakan gada. Dan alangkah idnahnya kolam tersebut yang ditumbuhi oleh bunga teratai yang merupakan stana dari pada Tuhan. Demikianlah dunia ini yang dilambangkan dengan kolam yang dijaga oleh para Dewa dalam setiap penjuru arah mata angin.

4.      Anjing sebagai Simbul Kesetiaan dan Kesabaran.
Dalam Mahabaratha pada bagian Svarga Rohanika Parva anjing disimbulkan binatang yang memiliki kesetiaan dalam mengabdi terhadap tuannya, hingga ke manapun akan diikuti serta ditunggu dengan sabar. Begitu juga dengan manusia yang hidup di dunia ini dengan kesabaran dan kesetiaan memuja terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka akan membawa  suatu hasil yang sesuai dengan karma itu, sehingga manusia akan mendapatkan kenikmatan serta kemakmuran melalui kesetiaann serta kesabarannya.
Anjing memang merupakan binatang yang paling setia, tetapi pada saat sudah terdesak segala cara pasti akan dilakukan untuk mendapatkan suatu yang diinginkannya. Seperti di dalam cerita di atas anjing menggunakan segala tipu muslihat mengatai kura-kura sebagai tai kerbau yang di bawa terbang sehingga kura-kura menjadi marah dan akhirnya ia terjatuh sehingga si anjing mendapatkan makanan.

5.      Kura-kura sebagai simbul kecerobohan dan ketidak hati-hatian.
Dalam cerita ini kura-kura disimbolkan sebagai wujud ketidakhati-hatian dan keceraobohan, ketidakmampuan menahan nafsu amarah sehingga menyebabkan terjerumusnya kura-kura ke dalam kematian. Kecerobohan dalam kehidupan ataupun dalam segala hal yang dilakukan oleh semua orang akan membawa orang tersebut ke dalam kesengsaraan yang akan menimbulkan ketidaknyamanan serta penderitaan baik fisik maupu nonfisik sehingga menyebabkan terjadinya keridakharmonisan dalam kehidupan ini.
Didalam kitab Nitisastra V.3 disebutkan:

“wasita nimitanta manemu laksmi,
Wasita nimittanta pati kapangguh,
Wasita nimittanta manemu dukha,
Wasita nimittanta mitra”.

Artinya:
Karena kata-kata engkau mendapat kebahagiaan
Karena kata-kata engkau menemui ajalmu
Karena kata-kata engkau menemui nestapa
Karena kata-kata engkau mendapati teman-teman
Dari sloka diatas, maka kita sebagai manusia harus berhati-hati dalam berkata-kata, sebab kalau kita asal bicara maka kita akan bisa seperti kura-kura yang terdapat dalam cerita tersbut diatas.

6.      Telaga sebagai Simbol Dunia Ini
Telaga yang ditumbuhi oleh bunga teratai merupakan symbol dari dunia ini yang dijaga oleh para dewa di Sembilan arah mata angin. Maka sangat indah telaga yang ditumbuhi oleh teratai yang berwarna-warni.

7.      Pohon Mangga
Anjing yang menunggu makanan di bawah pohon mangga sampai badannya kurus kering karena pohon mangga merupakan symbol keberhasilan dan memang benar adanya akhirnya anjing itu mendapatkan makanan yang diinginkannya.


G.    Nilai Etika Agama Hindu
Nilai adalah merupakan kualitas dari suatu kehidupan manusia. Pendidikan adalah suatu sestem untuk menuntun, menjinjing, mengarahkan, menjadikan dewasa secara lahir dan batin terhadap seseorang melalui penananman nilai tertentu. Kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos atau la ethos, yang berarti kebiasaan atau adat, dan etika menurut kamus Bahasa Indonesia yang berarti ilmu tentang hak  dan kewajiban aklak (Tim Penyusun, 1989; 271). Ilmu pengetahuan ini tidak membahas kebiasaan yang semata-mata berdasarkan sifat-sifat dasar dan inti sari kemanusiaan, ialah adat-istiadat yang berhubungan dengan pengertian kesusilaan. Dalam bahasa latin ethos disebutkan dengan kata mos moralitas, karena itu ethika sering diterangkan dengan kata moral. Akan tetapi dalam ilmu pengetahuan, kata moral itu lebih dangkal dari pada ethika. Moral hanya menyinggung arti perbuatan luar seseorang, sedangkan ethic menyinggung pula kaidah dan motif perbuatan seseorang yang lebih dalam. Ethika di nyatakan dengan tepat dalam bahasa Indonesia oleh perkataan kesusilaan atau tata susila yang mempunyai pengertian baik, benar, sesuai, sopan santun, sikap, kaidah dan norma. Semua hal tersebut yang menunjukan sikap terhadap semua norma itu dan menegaskan bahwa tingkah laku manusia harus sesuai dengan norma atau perintah agama yang berasal dari wahyu (Sabda Hyang Widhi). Titik tolak peninjauannya adalah masalah kebaikan dan keburukan, keharusan, kebajikan, dan pahalanya, orang harus memilih yang baik dan menjauhi yang tidak baik (menghindari asubha karma). Berdasarkan pengalaman, tingkah laku seseorang di katakan baik atau buruk, perbuatan baik mendapat pujian dann sebaiknya, maka itu manusia tidak saja harus dapat membedakan perbuatan baik atau buruk, akan tetapi lebih penting lagi, ia selalu berbuat dan bertindak, bertingkah laku baik dan menghindari perrbuatan buruk. Berikut adalah kutipan sloka sarasamuscaya adalah sebagai berikut:

            Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe,
            Asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Maksudnya:

            Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat melakukan perbuatan baik atau buruk, leburlah kedalam perbuatan baik segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah tujuannya menjelma manusia. (sarasamuscaya,2)

            Yang dimaksud dalam sloka tersebut bahwa bagaimana manusia harus menyusun hidup, sehingga kehidupan dapat dikatakan baik, manusia memahami persolaan itu dan berusaha memcahkannya, karena manusia harus dapat membedakan antara yang baik dan buruk serta kemampuan memilih yang baik keluhuran manusia.
            Dalam cerita Cangkrangga wmang Durbudhi banyak terdapat nilai-nilai etika antara lain etika social budaya, etika social ekonomi, hak dan kewajiban, tingkah laku yang kesemuanya merupakan suatu bentuk ajaran yang perlu dipahami dan dilaksanakan oleh umat manusia di kehidupan sehari-hari, adapun penjelasan tersebut sebagai berikut:
1.      Nilai Etika Sosial
Manusia dapat hidup sebaik-baiknya dan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama-sama manusia lainnya. Apabila manusia terpaksa harus hidup sendiri, maka sifat kesendiriannya itu tidak mutlak dan langsung, melainkan bersifat relative dan sementara. Dari lahir samapai meninggal manusia memerlukan bantuan orang lain. Dari kondisi inilah, maka demi kelangsungan hidupnya manusia perlu mendapat bantuan atau bekerja sama dengan orang lain dalam masyarakat.
      Dalam mempertahankan hidup dan usaha mengejar kehidupan yang lebih baik, kiranya tidak mungkin hal itu dikerjakan sendiri tanpa bantuan dan bekerja sama dengan orang lain, karena menurut kodratnya manusia merupakan mahluk pribadi dan sekaligus mahluk social. Oleh karena itu manusia hanya mempunyai arti dalam kaitannya dengan manusia lain dalam masyarakat. Sehingga kemampuan manusia dapat terwujud dalam bentuk kerja sama antara satu dengan yang lainnya. Sehingga kehidupan masyarakat untuk mencapai kemajuan, dan kemakmuran dapat diwujudkan melalui hal tersebut. Kebersamaan dan kerja sama yang dibangun dalam etika social akan membawa pada kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat tersebut sehingga kutipan “Brahman Atman Aikyam” yang mempunyai arti Brahman dan Atman itu pada hakekatnya adalah tunggal. Menjadi pangkal dari pemahaman bahwa sebenarnya sumber kehidupan manusia berasal dari TUhan, dengan mencintai Tuhan maka Tuhan akan bersamamu; taatilah Tuhan dan ia akan memperlihatkan kepadamu ajaranNya yang suci. Keadamaian dalam kehidupan bermasyarakat merupakan sesuatu yang sangat diidam-idamkan dan menjadi tujuan dari setiap umat manusia. Kerjasama dalam kehidupan social masyarakat social masyarakat sungguh menjadi suatu hal yang sangat di perlukan dan dalam kehidupan beragam Hindu mempunyai peranan yang sangat penting.
2.      Nilai Etika Sosial Budaya
Manusia menciptakan manusia dilengkapi dengan akal pikirian, kemauan bebas dan perasaan hokum dan peraturan yang harus ditaati oleh manusia dalam memperkembangkan hidup yang baik dan mewujudkan kebahagiaan abadi. Manusia hidup di dunia untuk berbuat mengisi dan mengatasi hidupnya tidak hanya di dunia saja. dan manusia sadar dengan apa yang ia kerjakan untuk menentukan dan mengatur hidupnya. Dengan akal pikirannya manusia mampu mengelola alam ini untuk di jadikan barang-barang bergunauntuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan manusia berusaha dengan akal pikirannya mengolah untuk dapat menciptakan barang-barang sebagai hasil ciptaan yang disebut kebudayaan. Dimana manusia mengubah dan mengusahakan (mengerjakan) kemungkinan-kemungkinan jasmani dan rohani dari pada alam yang diciptakan oleh Hyang Widhi, disitulah terdapat kebudayaan. Maka dapat dikatakan bahwa tuhan, telaga, angsa, air, makanan, ikan, dan sebagainya adalah unsure alam. Di dalam kebudayaan berbuatlah manusia sebagai manusia terhadap alam, ia membedakan dirinya dari aam dan menundukannya. Sedangkan kebudayaan mempunyai hubungan timbale balik dengan agama namun demikian, agama dan kebudayaan itu tidak sama. Hubungan kebudayaan dan agama tidak statis namun dinamis selalu bergerak maju sesuai dengan perkembangan dan peradaban yang ada. Pada kodratnya manusia mempunyai berbagai kerinduan, kekuatan, daya/tenaga, yang harus diwujudkan dan disempurnakan, yaitu:
1.      Kemungkinan badan, panca indra apabila diwujudkan dapat melahirkan, seni, olah raga dan lain sebagainya.
2.      Kemungkinan pikiran menciptakan ilmu pengetahuan, tehnik, filsafat.
3.      Kemungkinan kehendak apabila disalurkan ke jalan yang benar akan menimbulkan tata susila.
Manusia mempunyai kerinduan kepada sesame dan kepada Hyang Widhi Wasa, jika kerinduan terhadap manusia diwujudkan maka akan melahirkan hidup bahagia, adat-istiadat, bangsa dan Negara. Bilamana kerinduan terhadap Tuhan (kesadaran keagamaan) disempurnakan maka timbul sembahyang, sradha dan bhakti yang dilandasi dharma.
Di dalam masyarakat kebudayaan tdak lepas dari ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan sebagai pangkal berkembang tidaknya suatu tingkat hidup manusia. Dengan ilmu pengetahuan maka manusia dapat memenuhi segala kebutuhannya, dan dengan ilmu pengetahuan manusia bisa membahayakan dan menimbulkan bencana di lingkungan mansyarakat tersebut. Maka untuk penyelarasan keadaan tersebut. Agama memberikan tuntunan, dan arahan kepada seluruh umat manusia untuk berjalan pada ajaran dharma tersebut. Sehingga tujuan yang menjadi cita-cita hidup manusia dapat tercapai.
3.      Etika Sosial Ekonomi
Alam semesta diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan idpergunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan hiduup, sehingga dalam kehidupan social ekonomi masyarakat perlu mengenal dan menjalankan etika, sebagai bentuk karma yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta. Hakekat hidup manusia adalah kerja. Dalam hidup manusia di dunia ia tidak dapat menghindarkan diri dari kegiatan kerja, karena kerja adalah kodrat manusia. Dengan bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhannya, kerja yang dimaksud adalah kerja yang dilaksanakan tanpa mengharapkan imbalan, tidak mengikat, sebagai contoh orang yang membuat jalan agar lalu lintas menjadi lancara atau membangun rumah tetangga dengan bergotong royong. Gotong royong yang dimaksud sebagai wujud kerja yang dilakukan dengan ikhlas, maka orang tidak diikat oleh kehendak mendapatkan imbalan. Sebaiknya kerja dilaksanakan dengn tujuan mendapatkan imbalan, maka pekerjaan itu akan mengikat, yaitu orang diikat oleh harapannya untuk mendapatkan pahala yang setimpal dengan jerih payah yang dicurahkannya dalam pekerjaan itu. Kerja sebagai perintah yang diberikan kepada manusia baik itu tua, muda, pemuda, rohaniawan dan sebagainya. Karena dengan melakukan kerja yang ikhlas adalah suatu bentuk yadnya (korban suci). Orang yang bekerja hanya didorong keinginan mendapatkan kebahagiaan dunia semata (jagadhita), tanpa dilandasi bakti kepada Hyang Widhi, hanya akan mendapatkan kebahagiana sementara. Akan tetapi orang yang bekerja dilandasi dengan cinta kasih dan bhakti kepadaNya dan tujuannya untuk menyatukan Atman dengan Brahman, maka akan mendapatkan kebahagiaan abadi (sukha tanpawali dukha). Mereka yang selalu mengikatkan diri pada materi, mereka selalu gelisah, sebab di dalam materi tidak terdapat ketengangan hati dan kebhagaiaan sejati. Tetapi orang yang menyadari bahwa materi itu hanya sekadar merupakan alat untuk menata diri (mengatur diri), mereka tidak menetang materi dan kaidah suci, karena keduannya tersusun secara hirerarkis. Materi sebagai fondasi dan sarana hidup ini dan kidah suci adalah naungan abadi Hyang Widhi, yang melindungi manusia dari perbuatan nista dan keji. Mereka yang mengetahui hal tersebut akan selalu beriman (sradha) dan berlindung kepada Sang Hyang Widhi, memepercayai kebenaran Hukum Karma.
4.      Hak dan Kewajiban
Tingkah laku manusia dapat terpaksa atau terikat karena kekuatan lahiriah, dapat juga kekuatan batiniah kodratnya serta kemauan yang memerintahkan, yang akhirnya menjadi keharusan moril. Kewajiban moril bagi manusia adalah tujuan tertinggi yang disebut kebaikan tertinggi, yakni Hyang Widhi Wasa.
Sebagai contoh: adalah sepasang angsa yang mempunyai keinginan untuk berpindah tempat dari telaga yang airnya kering menuju telaga yang airnya bening dan penuh. Hal inilah yang merupakan hak angsa untuk terus hidup dengna berpindah tempat. Kewajiban yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan hak kepada pelaksanannya.
a.       Hak terhadap diri sendiri adalah wewenang moril untuk mengerjakan, meninggalakan, memiliki dan mepergunakan sesuatu. Segala sesuatu dimana kita mempunyai hak terhadapnya, kita mempunyai hak untuk hidup namun kita mempunyai kewajiban untuk mencapai tujuan akhir yang didahului dengan kewajiban hidup sesuai dengan hokum moral.
b.      Hak milik perorangan adalah hak untuk memperoleh barang duniawi, mengatur dan memakinya untuk diri sendiri. Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, manusia harus dapat bertanggung jawab atas kehidupannya. Sebagai penghasil manusia adalah mahluk kerja dan menikmati hasil tersbut secara langsung.
c.       Hak hidup orang lain menurut kodratnya membunuh dilarang keras karena merupakan pelanggaran hak perorangan untuk mempergunakan hidupnya dan pelanggaran hak umum. Hokum alam memberikan hak hidup, sehingga memperbolehkan melindungi hidupnya itu dengan mempergunakan cara yang menurut kodratnya tidak boleh. Misalnya membunuh tidak boleh, akan tetapi bila hal itu terjadi dalam usaha membela diri, maka tidak merupakan suatu dosa.
Kewajiban dalam asti obyektif adalah keharusan moril untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Kewajiban dalam arti subyektif adalah suatu yang harus ditinggalkan dan dilaksanakan. Kewajiban adalah cita-cita yang termulia karena kewajiban itu merupakan ide dari Tuhan. Masing-masing dibatasi oleh hak dan kewajiban. Adapun macam kewajiban adalah:
a.       Kewajiban terhadap diri sendiri adalah keharusan orang mencari tujuan akhir dengan melakukan perbuatan berlandasan moral yang baik. Untuk melaksanakan orang harus hidup, jadi orang itu berhak atas hidup sendiri di bumi ini. Tuhan adalah pengemudi tertinggi seluruh alam semesta dan ia menentukan apakah manusia telah melakukan perbuatan baik yang cukup untuk mencapai tujuan akhir. Oleh sebab itu manusia tidak mempunyai kekuasaan langsung terhadap dirinya.
b.      Manusia diperbolehkan memperpanjang hidupnya, karena dengan demikian dapat melaksanakan keuasaan tidak langsung. Kekuasan tidak langsung itu berarti bahwa hidup ini hanya dipinjamkan oleh Tuhan kepada manusia untuk dipergunakan memperbaiki perbuatan dan mencapai tujuan akhir. Segala sesuatu harus dipikirkan untung rugi, baik buruk, karena kewajiban hidup di dunia adalah untuk bekerja. Kewajiban juga tidak hanya terhadap sesame manusia saja melainkan kepada Tuhan pun harus dilakukan. Kewajiban terhadap Tuhan adalah Agama dan dapat diketahui oleh kodrat diri kita sendiri. Etika menuntut supaya manusia mengakui kenyataan itu dalam tingkah lakunya. Agama sebagai rumusan kewajiban terhadap Tuhan yang dapat ditinjau dari dua sudut; sudut obyektif yaitu agama terdiri dari kebenaran yaitu manusia harus memuja Tuhan Yang Maha Esa sebagai kesempurnaan tanpa hingga, pemujaan terhadap Tuhan merupakan perbuatan jasmaniah dan rohaniah, karena setiap perbuatan manusia berdasarkan pada tindakan yang timbul dari kemauan.
Didalam cerita Cangkrangga wmang Durbudhi dapat diambil suatu penggambaran tentang tingkah laku perbuatan manusia dalam memegang keteguhan hati, kesabaran, nasehat dan juga pesan-pesan rohani yang semuannya bertujuan untuk kedamaian dan keselamatan seluruh umat manusia. Berikut adalah sebagai petikan tetang nilai yang mengandung pesan yang mempunyai nilai etika yang sangat tinggi, adapun hal tersebut sebagai beriktu:
      …… “haywa tan mategah denta manhut, nguni weh haywa ngucap-ucap salwir ning kurungkalan, seoeng ning hulun humi beraken, ri kia, haywa juga binaruhan dinta, yan hanca atakwana haywa juga sinahuran, yekti ula hanta, haywa ta san pmituha pawuwus mami, kunai ka yan tan pamitu hu warah mami, tan sidha tekeng don matemahan pati. (Cangkrangga Wmang Durbudhi, Cet 1)
      Sang angsa menyampaikan pesan kepada kura-kura sebelum pergi dari telaga tersebut yaitu untuk tidak menghiraukan dan tetap teguh dalam menggigit kayu, serta jangan menjawab bila di perjalanan ada yang bertanya. Hal ini merupakan ajaran yang ditujukan terhadap semua orang agar dalam mencapai sesuatu perlu konsentrasi atau pemusatan pikiran supaya dapat sampai pada tujuan tersebut, jika dalam menjalankan tugas atau kewajiban tersebut dilakukan dengan ceroboh dan gegabah maka tugas tersebut tidak akan seleasi dengan mulus, sehingga sesuatu yang sudah direncanakan akan sia-sia saja.
      Hati yang teguh maksudnya adalah tidak terombang-ambing dalam keadaan dan kondisi apapun, sehingga hati, pikiran tidak tergoyahkan dengan adanya godaan, rintangan yang dapat menggagalkan tujuan yang sudah direncanakan. Dengan demikian manusia tidak dapat dengan seenaknya melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan kehendak hatinya karena dengan keteguhan dan tekad yang kuat segala sesuatunya akan dapat di capai dan terwujud sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
      Dalam pergaulan hidup sehari-hari dan displin itu sama sekali kita tidak bisa lepas. Terbukti sedikitpun kita salah di dalam tingkah laku akan bisa menjerumuskan kita kelembah nista. Misalnya saja kalau kita sudah terbiasa hidup minum-minuman keras atau mabuk-mabukan, urakan di jalan pada etika dapat kita kembangkan dari sejak dini yaitu pada masa kecil dan anak-anak. Sebab kalau dari kecil sudah membiasakn diri bersikap tidak baik maka setelah dewasa akan terbawa-bawa kebiasaan buruk itu dan kehidupannya tidak akan kalau dibiasakan dididik dan dibina di dalam kehidupannya sehari-hari untuk berbicara yang baik dan benar, bersikap ramah dan sopan kepada orang lain, hormat kepada orang tua maka anak itu akan menjadi anak yang baik atau menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara.
      Demikian pula dengan disiplin atau teguh. Keteguhan atau kedisiplinan yaitu melatih sikap dan watak agar dapat terlaksana sikap taat dan jujur didalam tingkah laku manusia. Sama halnya dengan tersebut diatas, di dalam pergaulan hidup sehari-hari disiplin itu perlu dikembangkan, untuk mengantarkan hidup kita sehingga menjadi anak yang baik dan berguna bagi bangsa dan Negara. Contohnya: di dalam melakukan sesuatu kita harus teguh iman, tahan dengan godaan meskipun apa yang terjadi kita harus tetap teguh dengan pendirian kita sendiri. Sebab setiap melakukan sesuatu selalu ada godaan. Bila seseorang senantiasa mengikuti kebenaran, maka hidupnya akan selamat dan sejahtera terhindar dari bencana, memperoleh kebijaksanan dan kemuliaan. Kebenaran dan kejujuran dapat dilaksanakan dengan mudah, apabila seseorang sudah terbiasa hidup disiplin, jujur, dan memiliki keyakinan yang bersumber pada ajaran agama. Dengan keyakinan dan disiplin ini seseorang akan mantap bertindak di jalan yang benar, menuju yang benar. Sebab sifat lemah, tidak mempunyai pendirian tetap yang timbul pada diri sesorang yang tengah menghadapi krisis dalam mengambil sikap penuh resikao, kesungguhannya diidentikan dengan sifat yang tergolong tidak utama, orang yang disiplin dan teguh pikirannya dapat merasakan sama antara susah dan senang, orang seperti inilah dapat hidup kekal dan abadi.
      Dari uraian tersebut di atas dapat disimak maknanya bahwa, etika dan disiplin atau keteguhan hati merupakan ketaatan dan kejujuran tingkah laku yang dibuat oleh manusia, dipatuhi dan ditaati untuk kepentingan dalam hidup pergaulan manusia sehari-hari guna membina watak manusia agar menjadi keluarga yang baik, anggota masyarakat yang baik, menjadi manusia yang berkeperibadian mulia dan membimbing umat Hindu dalam usaha menciptakan hubungan yang harmonis dan selaras antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam semesta dan antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan berbagai manifestasinya. Terciptanya hubungan yang harmonis dan selaras merupakan salah satu landasan terwujudnya kehidupan yang nyaman, rukun, damai dan sentosa, sehingga tercapainya tujuan umat Hindu. Peranan cerita Cangkrangga dan Durbudhi dalam peningkatan etika dan disiplin dikalangan umat Hindu pada hakekatnya adalah dipengaruhi oleh desa (tempat), kala (waktu) dan patra (aturan) keadaan social ekonomi. Kata teguh atau disiplin kalau kita kaitkan dengan ajaran Asta Brata yaitu mengenai delapan disiplin kepemimpinan seseorang pemimpin pemerintah. Asta artinya delapan, sedangkan brata artinya tugas kewajiban, azaz/laku. Adapun bagiannya adalah Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Candra Brata/ Sasi Brata, Anila/bayur Brata, Dhanada/Kwera Brata, Baruna Brata dan Agni Brata/Bhani Brata (L Mardiwarsito, 1990; 86). Jadi Asta Brata adalah delapan sikap mental disiplin merupakan ajaran Sri Rama kepada Gunawan Wibisana dalam memegang tampuk pimpinan Negara yang terdapat di dalam Kitab Ramayana, Asta Brata tersebut juga diajarkan dalam kitan hokum Hindu yang disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra.
      Manusia sadar atau tidak bahwa manusia mempunyai kecenderungan sifat baik (sifat Dewa) Dewi sampat (Budhi mulya) dan kesenderungan sifat tidak baik, sifat raksasa (Asuri sampat). Hal ini diakibatkan oleh badan manusia yang terdiri dari unsure purusa yaitu adanya atman sebagai unsure antakarana sarira atau badan penyebab, dan unsure pradana yaitu badan kasar atau stula sarira yang terdiri dari panca maha butha yang tidak mempunyai kesadaran. Pertemuan antara Purusa (atman) dengan badan menyebabkan manusia hidup dan memiliki kesadaran dan perasaan yang biasa di sebut dengan badan rohaniah atau stula sarira, atau Citta yang memiliki tiga kekuatan yaitu:
a.       Bhudhi yaitu alam kesadaran yang cenderung pada kebaikan, yang menyebabkan segala keputusan yang keluar dari Budhi ini mengarah pada keputusan yang bersifat baik, budhi luhur, sifat kedewasaan.
b.      Ahamkara yaitu alam kesadaran manusia yang cenderung pada egois, yang menyebabkan segala keputusan yang keluar dari ahamkara ini bersifat egois, mementingkan diri sendiri bersifat keraksasaan (Asuri sampat).
c.       Manah yaitu alam pikiran yang menyaring segala input untuk diolah kemudian dikeluarkan menjadi sebuah keputusan out put. Pikiran inilah yang dipengaruhi oleh budhi dan ahamkara tergantung mana yang lebih kuat, bila budhi lebih kuat mempengaruhi pikiran maka keputusan yang keluar adalah bersifat baik, demikian sebaliknya bila ahamkara lebih dominan mempengaruhi pikiran maka keputusannya cenderung lebih mementingkan diri sendiri.
Selain itu pikiran juga masih dipengaruhi oleh tiga sifat Triguna, yaitu:
a.       Guna Satwam yaitu sifat yang cenderung mengarah pada sifat ringan, menyenangkan, lemah lembut, merasa puas.
b.      Rajas yaitu sifat yang cenderung mendatangkan gerak, aktif, hal ini yang menyebabkan manusia kadang-kadang cenderung untuk bergerak cepat.
c.       Guna Tamas yaitu sifat yang menyebabkan manusia sering bersifat malas, masa bodoh, keras, menetang menyebabkan timbulnya kebingunan.

B. Bentuk Penerapan Nilai Dalam Kehidupan Sehari-hari
            Selain sifat dasar yang mempengaruhi manusia juga terdapat beberapa tingkah laku yang merupakan suatu bentuk perwujudan dari nilai etika itu sendiri, hal ini dapat diwujudkan dalam beberapa hal yang merupakan perwujudan yang dilaksanakan dalam bentuk Tri Kaya Parisudha, Tat Twam Asi, Yama, Nyama Brata dan sebagainya di kehidupan sehari-hari antara lain:
a.       Tat Twam Asi
Tat Twam Asi berarti aku adalah engkau, engkau adalah aku. Kalimat ini mengandung maksud bahwa kita wajib dan harus mengasihi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Inilah dasar utama untuk mewujudkan masyarakat yang Canti (damai) dan Kerta ( makmur). Tat Twam Asi berarti selalu mengutamakan cinta kasih, bhakti dan rela beryadnya (berkorban). Dari perkataan tersebut berarti bahwa semua mahluk adalah sama yang berasal dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kitabBhagawadgita dikatakan bahwa Atman memberikan hidup pada semua mahluk dan juga menggerakan alam semesta sehingga disebut dengan Paramatma.
            Kalau di umpamakan atman itu sebagai sinar matahari yang menyinari semua tempat, sedangkan paramatma atau HYang Widhi ibaratnya sebagai dasar maka bermakna Hyang Widhi yang ada di mana-mana dan tunggal yang menjadi dasar hidup bagi semua ciptaanya.
            Demikian setiap kehidupan berasal dari satu yaitu Hyang Widhi, oleh karena itu setiap manusia harus mampu hidup berdampingan secara rukun, saling tolong menolong dan bantu-membantu. Tat Twam Asi merupakan dasar ajaran Etika (tingkah laku) yang baik dan benar yang diajarkan dalam agama Hindu. Ajaran ini ditanamkan kepada seluruh umat, supaya memiliki kepribadian bahwa apabila menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri dan menolong orang lain berarti menolong diri sendiri. Ajaran yang trekandung dalam hal ini antara lain :
1.      Cinta Kasih
Cinta kasih yang dimaksud disini adalah merupakan cinta kasih sejati yang ditandai cinta kepada kebenaran dan kebaikan, maka menjadi kewajiban setiap orang untuk berbuat baik dan benar. Dalam hal ini setiap umat manusia mempunyai kewajiban yang harus dilakukan dalam dirinya yaitu menanamkan cinta dan kasih terhadap segala mahluk ciptaannya. Cinta kasih inilah yang membawa manusia dalam tingkatan hidup yang lebih tinggi dan merupakan wujud nyata dari pengamalam dari pada Weda itu sendiri.
      Ajaran Tat twam Asi akan membentuk moral seluruh umat manusia agar menyayangi semua ciptaan Tuhan, karena manusia saling membutuhkan satu sama lain. Apabila dapat dipahami dengan baik maka kehidupan di dunia ini akan rukun dan selalu ada rasa damai.
2.      Bhakti
Bhakti berarti perwujudan  hati nurani yang ditujukan kepada semua orang serta Tuhan Yang Maha Esa. Selain pengertian tresebut bhakti juga berarti menyalurkan atau mencurahkan cinta yang tulus dan luhur kepada Hyang Widhi Waca, Negara, Bangsa, Guru dan orang tua serta orang yang lebih tua. Perwujudan rasa bhakti dapat berupa perbuatan yang tulus ditujukan kepada seseorang tanpa pengharapan sesuatu imbalan. Bhakti dapat dibagi menjadi dua tingkat yaitu apara bhakti dan para bhakti. Adapun yang dimaksud apara bhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih rendah, dan dilakukan oleh mereka yang mempunyai tingkat penahanan dan pemahaman kesucian batin yang belum tinggi. Tingkatan bhakti ini misalnya umat rajin sembahyang dan rajin membuat sesaji baik di Pura maupun di rumah tepat pada waktunya. Sedangkan yang dimaksud dengan para bhakti adalah cinta kasih lebih tinggi yang dilakukan oleh umat dengan tingkat kesuciannya dan pemahaman agama lebih tinggi.
      Selanjutnya dalam menanamkan ajaran Bhakti kepada seluruh umat dalam membentuk moral ada beberapa bentuk Bhakti, yang disebut Bavabhakti yang ditulis dalam buku Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan TInggi, yaitu sebagai berikut:
1.      Bhakti kepada Sang Hyang Widhi, yaitu wujud bhakti yang dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi yang memancarkan sinar-nya kepada semua mahluk yang menyebabkan adanya hidup dan kehidupan di dunia ini. Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini dengan meyadnyakan diri-Nya. Tuhan menciptakan manusia karena cinta kasih-Nya, oleh karena itu kita harus menaruh kasih kepada Tuhan (kasih balas) yang dilandasi dengan rasa Bhakti.
2.      Bhakti kepada orang tua yaitu bhakti yang dihaturkan kepada orang tua yang melahirkan, mendidik dan membesarkan sehingga menjadi dewas dan mampu berdiri sendiri serta sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itu setiap orang wajib dan harus berbakti kepada orang tua dengan selalu memenuhi permintaannya, menjalankan perintahnya dan menyenangkan hatinya.
3.      Bhakti kepada guru yaitu wujud bhakti yang ditujukan kepada Guru yang mempunyai tugas yang sangat mulia, yaitu meningkatkan kemajuan masyarakat untuk kemajuannya. Oleh karena itu setiap orang/ siswa wajib bhakti/ hormat kepada gurunya dengan senantiasa menuruti nasehatnya dan berbuat baik kepadanya.
4.      Bhakti kepada Bangsa dan Negara yaitu bhakti yang ditujukan kepada bangsa dan Negara yang selalu siap sedia mengorabankan jiwa dan raga untuk menegakan kemerdekaan, mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan golongan atau perorangan. Dalam usaha untuk memerdekakan diri dari belenggu awidya dan melepaskan diri dari reinkarnasi (Punarbhawa), orang harus dapat mengalahkan musuh yang ada pada diri kita.
Bhakti memiliki peran yang cukup, dalam usaha menanamkan pendidikan moral dan etika kepada umat Hindu khususnya dan seluruh umat manusia pada umumnya.
b.      Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha adalah tiga perbuatan yang harus ditanamkan dalam pendidikan moral etika pada masyarakat sejak dini. Tri Kaya Prisudha terdiri dari:
1.      Manacika, artinya pikiran yang baik.
2.      Wacika, artinya perkataan yang baik.
3.      Kayika, artinya perbuatan yang baik.
Manacika ialah gerak pikiran yang perlu disucikan, bila diperhatikan benar-benar segala perbuatan manusia selalu bersumber dalam pikiran. Dari pikiran yang baik.
Akan timbul perkataan dan perbuatan yang baik pula, begitu sebaliknya pikiran yang buruk akan timbul perkataan dan perbuatan yang buruk pula, ini harus dihindarkan dari anak-anak. Manacika memiliki peranan agar anak-anak dapat berpikir yang baik sehingga tertanam pula dalam pikiran anak itu pula, yaitu:
1.      Tidak menginginkan/dengki pada milik orang lain.
2.      Tidak marah kepada sesame mahluk.
3.      Percaya akan kebenaran ajaran Karma Phala.
Wacika adalah perkataan yang harus disucikan, dengan berkata yang baik dan benar pada anak akan timbul dari dalam dirinya ucapan santun baik kepada orang tua, saudaranya dan orang lain. Untuk dapat terwujud pada anak perlu ditanamkan supaya:
1.      Tidak berkata jahat dan mencaci-maki
2.      Tidak berkata kasar dan menghadrik
3.      Tidak memfitnah
4.      Tidak bohong
Kayika adalah perbuatan atau tingkah laku yang harus disucikan, tingkah laku juga menjadi cerminan dari mental anak. Dengan perbuatan yang baik anak dapat dikendalikan dari perbuatan yang dilarang agama, seperti:
1.      Membunuh atau menyiksa.
2.      Mencuri, melakukan kecurangan terhadap harta benda orang lain.
3.      Berzina, memperkosa dan melakukan kekerasan lainnya.
Dengan menjalankan ajaran Tri Kaya Parisudha dengan baik dan benar, diharapkan agar hidup ini bahagia dan memiliki mental baik.

H.    Nilai Pendidikan Tattwa Pada Cerita Cangkrangga Wmang Durbudhi
Tattwa berasal dari kata tat berarti kebenaran mutlak atau Tuhan. Sedangkan twa memiliki sifat. Jadi tattwa adalah yang memiliki sifat atau hakekat kebenaran mutlak. Jadi kebenaran mutlak yang terdapat dalam cerita Cangrangga wmang Durbudhi antara lain:
1.      Adanya sebuah kolam sebagai tempat tinggal serta tempat mencari kehidupan. Hal ini sebagai sumber kehidupan yang disediakan oleh alam.
2.      Adanya kura-kura dan angsa sebagai wujud kehidupan dalam masyarakat yang hidup saling berdampingan satu dengan yang lainnya.
3.      Adanya perpindahan dari kolam yang kering menuju ke kolam yang airnya bening dan tak pernah surut. Hal ini merupakan penggambaran sebagai hal etos kerja yaitu adanya peningkatan dari hal yang kurang baik menuju hal yang baik yang bisa disebut juga dari neraka menuju surga.
4.      Adanya bunga teratai sebagai simbul kesucian yang meruakan penggambaran stana Tuhan dalam wujud asta dala.
5.      Adanya anjing sebagai simbul kesetiaan. Hal ini digambarkan dengan sabarnya dibawah pohon untuk mendapatkan makananya sebagai wujud phala dari karma yang dilakukannya.
Dengan menelaah dan menerapkan nilai yang trekandung dalam cerita tersebut diatas diharapkan bagi umat manusia pada umumnya dan umat Hindu pada khususnya agar dapat mewujudkan apa yang menjadi tujuan serta keinginannya yaitu terciptanya kehidupan yang damai aman, sejahtera lahir dan bathin. Oleh karena itulah hal ini tidak terlepas dengan peran semua pihak dan adanya kerja sama antara satu dengan yang lainnya sehingga tujuan hidup manusia yaitu “Moksartham Jagadhitaya Ca Iti Dharma” dapat tercapai.
I.       Kesimpulan
Dari uraian tersebut maka penulis dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Bahwa nilai hal-hal yang berguna bagi umat manusia terdapat dalam cerita Cangkrangga wmang Durbudhi yang mampu meningkatkan kedewasaan seseorang di bidang kecerdasan, moral, sehingga mampu menganalisa nilai yang terdapat dalam Tantri Kamandaka umumnya dan cerita Cangkrangga wmang Durbudhi khususnya, yang menjadikan dirinya lebih dewasa dalam melihat, menganalisa dan memecahkan masalah
2.      Bahwa nilai yang terdapat dalam cerita Cangkrangga wmang Durbuhdi meliputi:
a.       Nilai etika seperti rasa kasih saying, perbuatan baik dan buruk.
b.      Adanya sumber kehidupan yaitu kolam Kumudawati yang keruh dan kering dan kolam Manasasara yang airnya bening dan penuh adalah sebagai simbul dari dua kekuatan, baik dan buruk.
c.       Kura-kura yang tidak bisa mengendalikan diri sehingga jatuh dan akhirnya mati adalah sebagai simbul neraka, sedangkan angsa yang mempunyai keteguhan dalam pendirian sehingga dapat mencapai tujuannya maka sebagai symbol dari sorga.
3.      Cerita Cangkrangga mwang Durbudhi menekankan pada pengendalian diri terutama tentang pikiran, karena pikiran itu adalah sumber dari perbuatan yang baik, maka selalu diusahakan untuk berpikir yang bersih dan suci dalam menjalani hidup ini.

DAFTAR PUSTAKA
Adia Wiratmaja, G.K, Etika Tata Susila Hindu Dharma, Magelang, 1975.
Agastama, Ida Bagus, dkk, Simbul Penyadaran dan Pencerahan, TU Warta Hindu Dharma,                            Denpasar, 1997.
Agung Oka, I Gusti, Slokantara, Hanoman Sakti, Jakarta, 1992.
BP 7 Pusat, Buku Materi Penataran P4.
BP 7 Pusat, GBHN, 1993.
BP 7 Pusat, Tap MPR, 1993.
Dinas Pendidikan dan Kebudayan Propinsi Daerah Dati 1, Tantri Carita (Nandhaka Harana), Bali, 1986
Hadi Wijaya, Sarwa Castra, Bali, 1970.
Hendropuspito. D. Sosiologi Agama. Malang : Penerbit Knisius, 1984.
Kajeng, I Nyoman dkk, Sarasamucaya, Surabaya: Paramita, 1999.
Mantra, IB, Tata Susila Hindu Dharma, Jakarta, 2002.
Mardiwarsito, L, Tantri Kamandaka (naskah danterjemahan dan glosarium), Jakarta, 1983.
Maswinara, I Wayan, Bhagawadgita, Jakarta, Paramita, 1997.
Pudja, Gede,  Pengantar Agama Hindu III Veda, Surabaya: Penerbit Paramita, 1998.
Putra, I.G.A.G, dan I Wayan Sadia, Wrhaspati Tattwa, Surabaya: Penerbit Paramita, 1998.
Sanapiah, Faisal. Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Penerbit Usaha Nasional, 1982.
Sivananda, Sri Swami. Intisari ajaran Hindu, Surabaya: Penerbit Paramita, 1993.
Subari, supervise Pendidikan Dalam rangka Perbaikan Situasi Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, 1984.
Suryosubroto B, Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan, Yogyakarta: Penerbit Rineka Cipta, 1982.
Titib, I Made, Weda Sabda Suci, Surabaya: Paramita, 1998.
Titib, I Made, Untaian Ratna Sari Upanisad, Denpasar: Penerbit Yayasan Dharma Naradha, 1994.
Wasminara, I Wayan, Swarga Rahnika Parwa, Surabaya, Parmita, 1999.
Yayasan Sanatana Dharma Srama, Inti Sari Ajaran Hindu, Paramita, Surabaya, 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar